Ilustrasi Ibrahim dan Ismail
Pada tempat dan hari yang telah ditentukan,
sang ayah menghunus pedang dengan asahan yang sangat menyilaukan. Dalam hati kecilnya mantap untuk melakukan
sebuah ritus pengurbanan dari hamba untuk Tuhan, pengurbanan yang tidak
tanggung-tanggung yaitu seorang anak satu-satunya yang paling ia kasihi setelah
penantian panjang atas kelahirannya.
Hari itu sang ayah ikhlas sebagai konsekuensi keimanan untuk memenuhi
wahyu ilahi, leher si anak telah siap diatas kayu talenan sesembelihan,
algojonya adalah seorang ayah………………………….
Lalu ditengah suasana bathin para penyaksi yang tidak tega, gemuruh harapan
dalam panjat doa kepada Tuhan sekilat menjadi hening seperti bisunya gunung, tiba
tiba seekor gibas menjelma sesaat sebelum pedang yang diayunkan menyayati leher
si anak. Akhirnya semua lega, tampak dari hela nafas kepuasan para penyaksi.




.bmp)
