Sabtu, 22 Agustus 2026
Keberhasilan Aparat Memindahkan Perhatian dari Delapan Tuntutan Fathimah Azzahra ke Teknis Demonstrasi
______________________________________
Namanya Fathimah Azzahra. Ia adalah mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia sekaligus Wakil Ketua BEM UI. Pada Selasa, 18 Agustus 2026, ia berdiri di Jalan Jenderal Sudirman bersama massa aksi #MerebutKemerdekaan. Di hadapannya berdiri Kombes Pol. Reynold Elisa Partomuan Hutagalung, Kapolres Metro Jakarta Pusat, sebagai wajah komando aparat di lapangan. Tujuan massa adalah Bundaran Hotel Indonesia. Namun, sebelum tuntutan mereka memperoleh panggung, barisan yang dipimpin Reynold lebih dahulu menentukan batas panggung itu.
Fathimah dan kawan-kawannya datang membawa delapan tuntutan. Isinya membentang dari pemberantasan korupsi, kolusi, dan nepotisme, reforma agraria, penurunan harga kebutuhan pokok dan bahan bakar, hingga evaluasi Proyek Strategis Nasional dan sejumlah program pemerintah. Mereka juga menuntut pemulihan otonomi daerah, penanganan bencana, serta penghentian represivitas dan intervensi aparat di ruang sipil. Itu adalah daftar persoalan negara. Akan tetapi, percakapan yang menonjol sesudahnya justru berkisar pada lokasi aksi, kendaraan komando, barikade, kemacetan, dan ketegangan di lapangan.
Dalam rekaman yang beredar, Fathimah tidak berdebat dengan aparat tanpa nama. Lawan bicaranya adalah Reynold. Keduanya beradu argumen mengenai akses menuju Bundaran HI dan perlakuan terhadap kendaraan aksi. Namun, pemberitaan dan percakapan warganet lebih banyak menjadikan wajah, nada suara, dan desakan massa sebagai adegan yang mudah dipotong serta dibagikan. Pada saat yang sama, delapan tuntutan tidak memiliki tubuh, suara, dan drama sekuat rekaman tersebut. Publik akhirnya lebih mengenal orang yang berdebat daripada pokok yang sedang diperdebatkan.
Di situlah kemenangan aparat dapat dibaca. Kemenangan itu bukan terutama karena massa gagal mencapai satu titik, bukan pula karena kritik berhasil dibantah. Aparat menang ketika ukuran peristiwa berubah: dari apakah tuntutan mahasiswa masuk akal menjadi apakah kendaraan komando boleh lewat; dari apakah kekuasaan harus menjawab menjadi apakah demonstrasi mengganggu lalu lintas. Tuntutan dikalahkan tanpa pernah benar-benar dijawab.
Tentu, saya tidak sedang menyatakan bahwa Reynold atau pejabat lain merancang operasi rahasia untuk menghapus delapan tuntutan tersebut. Yang dapat dilihat adalah hasil perebutan perhatian dan pembagian peran yang nyata. Reynold berhadapan langsung dengan massa. Kombes Pol. Laode Aries, Karo Ops Polda Metro Jaya, memimpin apel pengamanan dan memberi arahan kepada personel. Kombes Pol. Budi Hermanto, Kabid Humas Polda Metro Jaya, menjelaskan kepada publik alasan pembatasan Bundaran HI. Tiga nama, tiga posisi, dan satu bingkai dominan: ketertiban lapangan.
Dari peristiwa ini, saya melihat pola yang dapat disebut Tiga Gerak Pemindahan Perhatian. Gerak pertama adalah mengubah bingkai persoalan. Gerak kedua adalah membesarkan adegan teknis. Gerak ketiga adalah menutup peristiwa tanpa mekanisme jawaban. Ketiganya tidak harus lahir dari satu perintah atau satu perancang. Namun, ketika berlangsung berurutan, hasilnya menyerupai sebuah skenario yang bekerja sempurna.
Gerak pertama adalah mengubah bingkai persoalan. Mahasiswa datang dengan pertanyaan tentang korupsi, harga pangan, tanah, program strategis, bencana, otonomi daerah, dan ruang sipil. Budi Hermanto tampil membawa bingkai ketertiban: Bundaran HI disebut sebagai pusat kegiatan ekonomi, transportasi, perdagangan, perhotelan, dan kepentingan diplomatik. Demonstrasi di sana dinilai dapat membuat kemacetan merambat dan melumpuhkan Jakarta. Penjelasan Budi mempunyai dasar kepentingan publik, tetapi sekaligus memindahkan medan perdebatan.
Setelah bingkai ketertiban diterima, mahasiswa berada pada posisi defensif. Mereka tidak lagi hanya menjelaskan mengapa delapan tuntutan penting, tetapi harus membuktikan bahwa aksi mereka tidak merusak aktivitas kota. Beban percakapan berubah. Pihak yang menuntut jawaban justru dituntut menjawab. Dalam bahasa sederhana: sebelum pemerintah menjelaskan masalah negara, mahasiswa harus menjelaskan masalah jalan raya.
Gerak kedua adalah membesarkan adegan teknis. Barikade, kendaraan komando, rute, jumlah personel, dorong-mendorong, dan perdebatan langsung memiliki nilai gambar yang tinggi. Semuanya konkret, bergerak, dan mudah menimbulkan reaksi. Sebaliknya, reforma agraria, evaluasi kebijakan, pemulihan otonomi, atau status bencana membutuhkan penjelasan panjang. Di ruang media yang menyukai potongan singkat, keributan selalu lebih cepat berlari daripada substansi.
Reynold dan aparatnya tidak perlu meminta publik melupakan tuntutan. Cukup tersedia adegan teknis yang lebih menarik, kemudian perhatian akan bekerja sendiri. Orang memperdebatkan apakah Fathimah terlalu keras, apakah Reynold terlalu membatasi, apakah kendaraan boleh masuk, dan siapa yang lebih dahulu memancing ketegangan. Setiap perdebatan itu dapat dianggap penting. Namun, semakin lama energi publik habis di sana, semakin kecil ruang yang tersisa untuk membicarakan delapan tuntutan.
Gerak ketiga adalah menutup peristiwa tanpa mekanisme jawaban. Ketika massa bubar, kendaraan kembali bergerak dan jalan dinyatakan lancar, aparat dapat menilai tugas lapangan selesai. Media pun beralih kepada peristiwa berikutnya. Akan tetapi, tidak ada hubungan otomatis antara berakhirnya demonstrasi dan dimulainya pembahasan tuntutan. Tanpa tanda terima, penanggung jawab, tenggat, dan jawaban tertulis, substansi aksi ikut dibubarkan bersama kerumunannya.
Inilah perbedaan antara mengelola demonstrasi dan mengelola aspirasi. Demonstrasi diperlakukan sebagai kejadian: mempunyai waktu mulai, rute, risiko, dan waktu selesai. Aspirasi seharusnya diperlakukan sebagai perkara: mempunyai isi, pihak yang dituju, proses pemeriksaan, serta jawaban. Ketika negara hanya mengelola kejadian, keberhasilan diukur dari jalan yang kembali normal. Ketika negara mengelola aspirasi, keberhasilan baru dapat dinilai setelah persoalan memperoleh respons.
Masalahnya bukan bahwa aspek teknis tidak penting. Keselamatan peserta, hak pengguna jalan, akses transportasi, dan pencegahan kekerasan merupakan tanggung jawab nyata. Namun, hal yang penting dapat digunakan untuk menggeser hal yang lebih mendasar. Ketertiban berubah menjadi tabir ketika setiap pembicaraan berhenti pada cara demonstrasi dilakukan dan tidak pernah sampai kepada alasan demonstrasi itu dilakukan.
Agar pemindahan perhatian tidak terus berulang, mahasiswa memerlukan Protokol Penjaga Substansi. Lapis pertamanya adalah pemadatan pesan sebelum turun ke jalan. Delapan tuntutan tidak cukup dicetak sebagai daftar. Tuntutan perlu dikelompokkan menjadi tiga pesan induk, dilengkapi satu kalimat masalah, satu bukti utama, satu pihak yang bertanggung jawab, dan satu tindakan yang diminta. Dengan demikian, substansi mempunyai bentuk yang cukup ringkas untuk bersaing dengan gambar barikade.
Lapis kedua adalah pemisahan peran di lapangan. Koordinator teknis menangani rute, kendaraan, keamanan, dan komunikasi dengan aparat. Juru bicara substansi tidak ikut terseret dalam seluruh perdebatan teknis; tugasnya mengulang isi tuntutan dalam konferensi pers, siaran langsung, dan wawancara. Setiap kali percakapan berpindah ke kemacetan atau kendaraan, ia mengembalikannya dengan kalimat jembatan: persoalan teknis sedang dibicarakan, tetapi delapan tuntutan tetap menunggu jawaban.
Lapis ketiga adalah buku besar tuntutan yang dapat diperiksa publik. Setiap tuntutan dicatat dalam satu laman bersama dokumen pendukung, lembaga tujuan, tanggal penyerahan, nama penerima, respons awal, tenggat tindak lanjut, dan status terakhir. Dalam dua puluh empat jam setelah aksi, penyelenggara menerbitkan kembali isi tuntutan. Dalam tujuh hari, mereka mengumumkan siapa yang sudah menjawab dan siapa yang diam. Dengan cara itu, selesainya kerumunan bukan akhir dari perkara.
Pemerintah dan kepolisian juga perlu mengambil bagian. Reynold sebagai komandan lapangan perlu memastikan alasan pembatasan disampaikan tertulis dan alternatif lokasi tetap mempunyai daya jangkau simbolik. Laode Aries sebagai pengarah operasi perlu menilai keberhasilan bukan hanya dari tertibnya personel, tetapi juga dari terlindunginya ruang penyampaian pendapat. Budi Hermanto sebagai pengelola komunikasi publik perlu menyandingkan penjelasan lalu lintas dengan keterangan mengenai ke mana aspirasi diteruskan. Aparat boleh memenangkan pengelolaan jalan, tetapi negara tidak boleh menjadikan kemenangan teknis sebagai pengganti kewajiban substantif.
Mungkin muncul keberatan: bukankah mahasiswa sendiri ikut menyebabkan tuntutan tenggelam karena lebih memilih berdebat di depan kamera? Keberatan itu sebagian benar. Peserta aksi juga bertanggung jawab menjaga disiplin pesan dan tidak menjadikan benturan sebagai satu-satunya ukuran keberanian. Namun, tanggung jawab komunikasi mahasiswa berbeda dari tanggung jawab negara. Kelemahan strategi demonstran tidak menghapus kewajiban lembaga publik untuk menerima dan menjawab aspirasi.
Bagi mahasiswa, Protokol Penjaga Substansi membuat energi aksi tidak habis untuk mempertahankan satu lokasi. Bagi media, protokol itu menyediakan data dan perkembangan yang dapat diberitakan setelah gambar kericuhan kehilangan kebaruannya. Bagi kepolisian, pemisahan urusan teknis dan substansi mengurangi tuduhan bahwa pengamanan dipakai untuk membungkam kritik. Bagi pemerintah, pencatatan tuntutan memberi kesempatan mengubah demonstrasi menjadi masukan kebijakan, bukan semata ancaman terhadap citra.
Ukuran keberhasilannya harus sederhana dan terbuka: berapa banyak pemberitaan yang menyebut isi tuntutan, berapa tuntutan yang diterima secara resmi, siapa yang menelaahnya, berapa yang memperoleh jawaban, dan apakah perkembangan itu dapat dilihat publik. Tanpa ukuran tersebut, kedua pihak mudah mengumumkan kemenangan masing-masing. Mahasiswa merasa telah bersuara; aparat merasa telah mengamankan. Sementara itu, persoalan tetap berada di tempat semula.
Fathimah datang sebagai calon dokter yang membawa daftar gejala sosial. Namun, ruang pemeriksaannya dipersempit menjadi perdebatan tentang pintu masuk, kendaraan, dan ketertiban koridor. Aparat berhasil membuat orang menatap cara pasien memasuki ruang perawatan, bukan penyakit yang dibawanya. Metafora ini tidak berarti seluruh diagnosis mahasiswa pasti benar. Diagnosis boleh diuji, dibantah, bahkan ditolak. Syaratnya satu: ia harus lebih dahulu diperiksa.
Karena itu, pelajaran terbesar dari Bundaran HI bukan sekadar bahwa barikade di bawah komando Reynold mampu menghentikan langkah massa. Barikade yang lebih efektif dibangun oleh pembagian kerja: Reynold menguasai arena, Laode mengarahkan pengamanan, dan Budi menguasai penjelasan publik. Barikade kedua itu berdiri di dalam percakapan dan memisahkan demonstrasi dari alasan yang melahirkannya. Pada hari itu, nama Fathimah menjadi gamblang karena perlawanannya. Nama-nama aparat juga harus gamblang karena kewenangannya. Jalan dapat dikuasai dalam beberapa jam. Namun, yang benar-benar dikalahkan adalah tuntutan—tanpa satu pun pemegang kewenangan merasa perlu menjawabnya.
Catatan sumber
• BEM UI Demo di Bundaran HI, Bawa 8 Tuntutan dan Pertanyakan Makna Kemerdekaan — Kontan, 18–19 Agustus 2026.
• Alasan Polda Metro Larang BEM UI Demo di Bundaran HI: Bisa Lumpuhkan Jakarta — iNews, 18 Agustus 2026.
• Polda Metro Jaya Jelaskan Alasan Blokade Aksi BEM UI di Bundaran HI — Pikiran Rakyat, 19 Agustus 2026.
• Polisi Ungkap Alasan Larang Aksi Mahasiswa di Bundaran HI — SINDOnews/RCTI+, 18 Agustus 2026.
• Demo Mahasiswa di Bundaran HI, Polda Metro Pastikan Humanis Tanpa Senjata Api — ANTARA, 18 Agustus 2026.
• Debat Panas Fathimah BEM UI vs Kombes Reynold Elisa — Suara.com, 18 Agustus 2026.
