Tampilkan postingan dengan label SUN LIFE. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SUN LIFE. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 20 September 2014

Gemericik Kotak Kayu Celengan Keluarga

Ilustrasi Ayah dan Anak dalam menabung (sumber: Sunlife)


Dahulu, di rumah orang tua saya terdapat sebuah kotak kayu dari jati, kotak itu dibuat oleh ayah saat kami anak anaknya masih kecil. ukurannya sekira 25 cm x 25 cm x 25 cm, diukir dengan motif batik mencirikan mata uang, berselang seling bidang sisinya terukir timbul Rp (rupiah) dan $ (dolar), dicat dengan warna emas simbol kekayaan dan kejayaan, menempati posisi tepat di samping TV ruang keluarga, menjadikannya sebagai benda paling keramat di dalam rumah, sebuah gembok merek globe ukuran tanggung tergantung di salah satu sudutnya, kunci gembok itu dipegang ibu sebagai pemilik kuasa,  kotak itu memiliki empat buah lubang sempit seukuran kepingan logam rupiah dan masing-masing tertulis ayah, ibu, kakak, dan adik pada setiap lubangnya, maka kami pun tahu maksud ayah mengapa kotak itu dibuatnya, kotak itu adalah celengan keluarga, seisi rumah menyebut kotak itu sebagai kotak cita cita.
--------<<<0>>>--------

Kamis, 12 September 2013

Nenek Ti’no: Teladan dalam Perlindungan Kesehatan Keluarga



Mencari model baru perlindungan kesehatan keluarga di Indonesia.






- See more at: file:///E:/sunlife/Kompetisi%20Menulis%20dan%20Foto%20Jurnalis%20serta%20Kompetisi%20Menulis%20Blogger%20Sun%20Life%202013%20_%20Brighter%20Life%20Indonesia.htm#sthash.POxJIGOd.dpuf







- See more at: file:///E:/sunlife/Kompetisi%20Menulis%20dan%20Foto%20Jurnalis%20serta%20Kompetisi%20Menulis%20Blogger%20Sun%20Life%202013%20_%20Brighter%20Life%20Indonesia.htm#sthash.POxJIGOd.dpuf


Nama beliau Ti’no, tepatnya Nenek Ti’no, tinggal di Desa Ara Kabupaten Bulukumba Sulawesi Selatan.  Sejak 15 tahun yang lalu saya tidak pernah lagi berjumpa dengan beliau yang kini telah berumur  sekitar 100 tahun, namun beliau masih sehat wal’afiat.  Beliau memiliki tiga orang putra dan dua orang putri,  membesarkan anak-anaknya sendiri sebagai orang tua tunggal setelah ditinggal terlebih dahulu oleh sang suami menghadap sang Ilahi, memang menjadi tugas berat yang harus diembannya.  Suaminya meninggal disaat anak-anak mereka masih kecil,  tugas membesarkan anak dijalaninya dengan hati yang lapang dan tak pernah putus asa.  Beliau adalah Ibu dari Bapak kandung saya, alias Nenek saya.

Sendiri membesarkan anak berjumlah 5 orang tentulah tidak mudah,  terlebih sang suami belum sempat mewariskan tanah dan lahan untuk berusaha.  Segala daya upaya dilakukan dalam membesarkan dan mendidik anak-anaknya agar kelak menjadi orang yang berguna.  Namun bagaimana melaksanakan peran itu dalam  keterbatasan ekonomi , hingga beliau dan anak-anaknya mampu bertahan hidup hingga sekarang, Bahkan umur beliau dianggap sebagai umur yang tak lazim bagi kebanyakan orang.