Rabu, 02 April 2025

UU TNI Baru: Reformasi Secara Diam-Diam Dihapus?

Ketika Reformasi 1998 bergulir, satu suara yang paling nyaring terdengar dari masyarakat sipil adalah ini: “Kembalikan militer ke barak!”. Teriakan ini bukan sekadar jargon, tapi representasi kekecewaan atas praktik dwifungsi ABRI selama puluhan tahun yang membekap ruang demokrasi, menekan kebebasan sipil, dan mencampuradukkan peran senjata dan kekuasaan.

Dua puluh lima tahun kemudian, pada Maret 2025, DPR RI mengesahkan revisi Undang-Undang TNI. Sebagian menyebutnya sebagai bentuk adaptasi terhadap ancaman baru seperti siber dan geopolitik internasional. Tapi sebagian lain—termasuk saya—melihat ini sebagai gerbang baru bagi militer untuk kembali masuk ke dalam kekuasaan sipil secara legal.

Revisi ini memperluas ruang prajurit aktif untuk mengisi jabatan sipil dari 10 menjadi 14 kementerian/lembaga, termasuk Kejaksaan, BSSN, dan BNPT. Bahkan tidak ada lagi kewajiban bagi mereka untuk pensiun terlebih dahulu. Ini jelas bukan penguatan TNI sebagai alat pertahanan negara. Ini adalah penguatan militer sebagai aktor pemerintahan.

Lantas, di mana posisi amanat reformasi 1998? Apakah kini hanya menjadi catatan kaki dalam naskah sejarah, bukan sebagai kompas kebijakan?


Bahaya Laten Dwifungsi Gaya Baru

Tak ada satu pun demokrasi mapan yang memberi ruang luas bagi militer aktif menjabat dalam struktur sipil. Mengapa? Karena senjata dan kekuasaan tak boleh menyatu. Ketika tentara menjadi pejabat, netralitas dan akuntabilitasnya runtuh. Ketika komando militer bercampur dengan birokrasi sipil, pengawasan publik lumpuh.

UU TNI yang baru boleh jadi tidak menyebut kata “dwifungsi”, tapi roh-nya terasa menghidupkan kembali praktik itu dalam bentuk yang lebih halus dan legal. Inilah yang disebut oleh banyak pengamat sebagai "dwifungsi bergincu", kelihatan manis tapi mengandung racun demokrasi.


Apakah Kita Sedang Mundur?

Jika reformasi pernah menjadi janji kolektif bangsa, maka revisi UU TNI 2025 tampak seperti sebuah pengkhianatan sunyi. Pelan tapi pasti, militer kembali diundang duduk di meja pemerintahan, bukan untuk menjaga dari luar, tapi untuk ikut mengatur dari dalam.

Apakah ini kebutuhan zaman, atau nafsu lama yang menyamar sebagai kebaruan?

Sebagai rakyat sipil, kita punya hak dan kewajiban untuk bertanya, mengkritik, dan mengingatkan: reformasi tidak boleh dihapus diam-diam hanya karena kita lengah atau lelah.

Jangan sampai senjata kembali memerintah. Jangan sampai kita mengulangi sejarah, hanya karena kita gagal menjaga warisan perjuangan 1998.

Sulung Kami dan Jalan Barunya di Pondok Alam

Ada saat-saat dalam hidup ketika waktu tak lagi sekadar bergerak, tapi mengajukan pertanyaan-pertanyaan penting kepada kita: sudahkah kami membesarkannya dengan cukup baik? sudahkah ia siap menghadapi dunia tanpa pelukan kami yang membalut semuanya? Dan pertanyaan itu datang pelan, hampir tanpa suara, saat kami menyadari bahwa anak sulung kami kini telah menapaki batas usia kanak-kanak, dan bersiap memasuki gerbang remaja—usia ketika hidup mulai membuka percabangannya sendiri.

Ia belum benar-benar pergi. Masih tidur di kamar yang sama. Masih meminta kami mengecek isi tas sekolah. Masih memeluk ibunya setelah pulang mengaji, dan masih sesekali merengek ingin jajan es krim di sore hari. Tapi kami tahu, sebuah pintu besar telah menanti untuk ia lewati. Dan pintu itu bukan pintu biasa—itu adalah pintu yang mengarah pada sebuah pondok alam, tempat yang menawarkan bukan hanya bangku belajar, tapi hidup yang sesungguhnya: sederhana, jujur, dan menuntut kemandirian.

Kami tidak mencarinya. Pondok itu seperti datang kepada kami melalui perbincangan-perbincangan ringan, rekomendasi teman, lalu menguat setelah kami duduk bersama sang pimpinan pondok dua bulan lalu. Wajahnya tenang, suaranya lembut, tetapi kata-katanya menggetarkan sesuatu dalam diri kami:

“Kami tak mencetak anak-anak yang hafal ribuan kata, tapi kami dampingi mereka agar hafal akan dirinya sendiri. Kami ingin anak-anak tumbuh tanpa ketergantungan, karena hidup tak pernah menjamin ada orang tua selamanya.”

Sejak hari itu, kami tak lagi sekadar membayangkan sekolah sebagai tempat belajar mata pelajaran. Kami mulai memikirkan sekolah sebagai ladang kehidupan, tempat anak-anak belajar menjadi manusia seutuhnya—dengan kerja keras, tanggung jawab, dan kesadaran diri.

Memilih jalan ini bukan tanpa rasa gentar. Tetapi di dalam hati kami mulai tumbuh keyakinan: mungkin inilah cara terbaik untuk anak sulung kami menapaki dunia—dengan kaki sendiri, bukan digandeng selamanya.


Anak sulung kami lahir di pagi yang tenang, saat embun masih bertahan di pucuk-pucuk rumput dan suara ayam belum ramai menandai hari. Ia adalah anak pertama yang mengubah status kami dari sepasang suami istri menjadi sepasang orang tua—gelar yang tak pernah lulus pelatihan, hanya belajar sambil dijalani. Dari tangis pertamanya, kami tahu bahwa rumah kami tidak akan pernah sama lagi.

Ia tumbuh dalam pelukan penuh harapan. Setiap langkah pertamanya kami sambut seperti pencapaian besar. Setiap kalimat pertama, tawa pertama, dan jatuh bangun kecilnya menjadi bagian dari buku harian yang tak tertulis, tetapi tertanam kuat dalam ingatan. Sebagai anak pertama, ia tidak hanya menjadi anak kami—tapi juga menjadi percobaan pertama kami dalam mendidik manusia.

Ada sisi dirinya yang tegas, suka mengambil peran saat adik-adiknya bertengkar, tapi juga ada sisi rapuh yang membuatnya merengek lama hanya karena sendalnya hilang sebelah. Ia penuh tanya, penuh rasa ingin tahu, dan sedikit keras kepala. Kami pernah berpikir itu kekurangan, tapi kini kami tahu, barangkali itu pertanda bahwa jiwanya tumbuh dengan cara sendiri.

Di rumah, ia sering membantu pekerjaan kecil tanpa diminta. Menyapu halaman, mencuci piring, atau sekadar mengambilkan air minum untuk tamu. Tapi kadang pula kami harus mengingatkan berkali-kali untuk hal yang sama. Ia bukan anak sempurna, tetapi ia adalah anak yang terus belajar, dan itu cukup bagi kami.

Setiap anak membawa cerminan dari rumah tempat ia tumbuh. Dan dalam diri sulung kami, kami mulai melihat bayangan nilai-nilai yang dulu kami rawat dengan sabar: menghormati orang lain, bertanggung jawab, tahu diri. Namun kami juga sadar, ada hal-hal yang tak bisa dia pelajari hanya dari rumah—ia perlu bertemu dengan dunia, merasakan sunyi, membuat keputusan, dan kelak mengerti makna pulang.

Maka ketika tawaran Pondok Alam datang dalam hidup kami, ingatan tentang perjalanan tumbuhnya kembali berputar di kepala. Kami bertanya: sudahkah kami cukup membekalinya? Sudahkah ia siap? Tapi yang lebih penting, sudahkah kami siap melepaskannya tumbuh dengan jalannya sendiri?


Perjumpaan kami dengan Pondok Alam bukan sesuatu yang direncanakan jauh-jauh hari. Ia datang pelan, seperti angin sore yang masuk melalui jendela terbuka—tak terduga tapi menyejukkan. Berawal dari obrolan ringan selepas salat magrib bersama seorang sahabat lama, yang anaknya telah lebih dulu menempuh pendidikan di sana. Ia bercerita tanpa berusaha meyakinkan, hanya menyampaikan pengalaman. Tapi kami menangkap sinyalnya: bahwa ada jalan pendidikan lain yang lebih membumi, lebih menyentuh kehidupan.

Beberapa hari kemudian kami menelusuri lebih jauh tentang pondok tersebut. Kami temukan informasi sederhana tapi penuh semangat—tidak banyak gembar-gembor, tidak menyilaukan oleh brosur. Hanya selembar visi dan misi yang ditulis dengan kalimat sederhana:

“Membentuk manusia yang mengenal dirinya, menyatu dengan alam, dan mandiri dalam bertindak.”

Kalimat itu mengusik hati kami. Sebab kami tahu, dunia yang akan dihadapi anak-anak hari ini bukan lagi dunia yang cukup ditaklukkan dengan angka tinggi di rapor. Dunia itu menuntut keberanian berpikir, ketahanan batin, dan kemampuan untuk berdiri tanpa digantungkan pada siapa-siapa. Dunia itu menuntut manusia-manusia mandiri. Dan ternyata, itulah yang sedang diupayakan Pondok Alam.

Kami akhirnya hadir dalam pertemuan terbuka di pondok tersebut, dua bulan lalu. Duduk di bawah naungan pohon rindang, bersama orang tua lainnya. Tidak ada aula mewah. Tidak ada pendingin ruangan. Hanya kursi panjang dan sajian singkong rebus. Tapi kami merasa nyaman, bukan karena fasilitasnya, tapi karena makna yang mengalir dari kata-kata sang pimpinan pondok.

“Kami tidak membentuk ketergantungan. Kami membentuk kemandirian. Karena hidup bukan soal siapa yang paling tahu, tapi siapa yang paling tangguh berdiri ketika tidak ada yang menuntun,” katanya.

Kami menunduk, terdiam cukup lama. Di dalam hati, kalimat itu memukul titik paling dalam sebagai orang tua. Betapa selama ini kami terlalu sering menjadi penyelesai bagi anak, bukan pendamping tumbuhnya. Betapa kami takut melihat mereka gagal, padahal gagal adalah bagian dari tumbuh itu sendiri.


Sesampainya di rumah setelah pertemuan itu, suasana di ruang tengah kami sedikit berbeda. Tidak banyak kata, hanya ada percikan-percikan pikiran yang saling bertubrukan dalam diam. Saya dan istri sama-sama tahu bahwa kami sedang menghadapi keputusan penting. Ini bukan soal memilih sekolah yang lebih dekat, lebih murah, atau lebih bergengsi. Ini adalah keputusan tentang arah hidup anak sulung kami, arah yang bisa saja membentuk siapa ia kelak.

Malam itu, kami duduk berdua di ruang tamu yang hanya diterangi lampu gantung berkekuatan 5 watt.

“Apa menurutmu dia siap?” tanya istri saya pelan.

Saya menjawab dengan pelan pula, “Mungkin dia belum siap sepenuhnya. Tapi bukankah memang itu fungsi pendidikan—membuat mereka siap?”

Beberapa hari setelahnya, kami mulai mengajak sulung kami berbincang. Kami membuka percakapan tentang hidup yang lebih mandiri, tentang tinggal di pondok bersama teman-teman, dan tentang kehidupan yang tidak melulu dibantu oleh ayah dan ibu.

Di penghujung percakapan, ia bertanya satu hal:

“Kalau aku kangen, boleh pulang sebentar?”

Kami menjawab bersamaan, “Tentu saja boleh. Rumah ini akan selalu menunggumu.”


Beberapa hari kemudian, kami memulai proses persiapan awal. Membeli keperluan dasar yang nantinya dibutuhkan di pondok: beberapa potong pakaian polos, peralatan mandi, dan sebuah jam weker kecil. Anak kami mulai menanyakan hal-hal kecil seperti, “Ini aku yang jaga sendiri ya?” atau “Kalau habis, aku beli sendiri di sana?”

Suatu sore, ia memasukkan benda-benda ke dalam kardus kecil: foto keluarga, kertas hadiah dari adiknya, dan komik robek. Saya bertanya, dan ia menjawab,

“Biar tetap ingat rumah.”

Sejak hari itu, kami tak hanya menyiapkan perlengkapan fisik. Kami juga mulai menyelipkan nasihat-nasihat kecil:

“Tempat tidur adalah cerminmu. Kalau rapi, berarti jiwamu pun rapi.”
“Kemandirian bukan cuma berani sendiri, tapi juga kuat menjaga tubuh sendiri.”

Kami belum melepasnya, tapi kami sudah mulai melatih hati ini untuk tak sepenuhnya menahannya.


Kini, di ambang jalan barunya di Pondok Alam, kami kembali menengok isi hati kami sebagai orang tua. Harapan-harapan itu tak lagi sesederhana dulu, tapi juga tak sekompleks tuntutan dunia. Ia lebih seperti doa panjang yang dibisikkan lirih di sela-sela sujud.

Kami hanya berharap ia tumbuh menjadi dirinya sendiri, dalam versi terbaik yang bisa ia perjuangkan. Kami ingin ia belajar bahwa hidup tidak selalu hangat seperti pelukan ibu, dan tidak selalu ringan seperti tawa ayah. Tapi justru di situlah letak keberanian.

Dan satu hal yang kami doakan selalu: semoga di setiap langkah barunya nanti, ia tetap membawa pulang satu hal paling penting—nilai-nilai rumah, yang selama ini kami semaikan diam-diam lewat kebiasaan kecil, ucapan sederhana, dan pelukan sebelum tidur.


Waktu terus berjalan, dan meski hari pelepasan itu belum tiba, kami bisa merasakannya semakin mendekat. Kami belum berkemas sepenuhnya. Belum mengantar sepenuhnya. Tapi hati ini sudah mulai belajar untuk merelakan dengan percaya.

Di ambang pintu jalan baru ini, kami berdiri bukan sebagai penjaga gerbang yang menghalangi, tapi sebagai pelambai tangan yang dengan tulus berkata:

“Selamat melangkah, Nak. Doa kami akan selalu lebih dulu sampai ke tempat yang kau tuju.”

Dan jika kelak, ia menengok ke belakang dan bertanya, “Mengapa dulu Ayah dan Ibu memilih jalan ini untukku?” Maka kami ingin menjawab dengan tenang:

“Karena kami mencintaimu, Nak. Dan cinta yang tulus, tak selalu ingin memeluk. Kadang, cinta sejati justru memilih melepaskan—agar engkau tumbuh menjadi manusia utuh.”

Selasa, 01 April 2025

Pulang Tanpa Kemenangan.

Mudik. Sebuah kata sederhana, namun sarat makna bagi jutaan perantau di negeri ini. Setiap menjelang hari raya, arus manusia mengalir deras ke arah berlawanan dari kota: menuju desa, menuju kampung halaman. Di sana, peluk tawa menyambut mereka yang kembali. Rumah-rumah dibersihkan, dapur kembali menghangat, dan cerita-cerita keberhasilan menjadi menu utama di meja makan. Mudik, bagi banyak orang, adalah perayaan atas keberhasilan bertahan di perantauan.

Namun tidak bagi semua orang.

Bagi sebagian lainnya, mudik justru menjadi cermin yang menyakitkan. Seorang perantau yang pernah bermimpi besar kini duduk di kamar kontrakan sempit, menimbang-nimbang: pulang atau tidak? Bukan karena tak cinta kampung halaman, tapi karena takut tak diakui, takut pertanyaan basa-basi berubah jadi penghakiman. “Kerja di mana sekarang?”, “Sudah punya mobil?”, “Kapan bangun rumah di sini?” — kalimat-kalimat sederhana yang menyayat diam-diam.

Dalam sunyi itu, ia pun bertanya pada dirinya sendiri: apakah pulang harus selalu disambut kemenangan?

Albert Camus pernah menulis, "In the depth of winter, I finally learned that within me there lay an invincible summer." Tapi bagaimana jika musim dingin itu terus bertahan di dalam dada, dan kampung halaman tak lagi membawa kehangatan?

Esai ini adalah renungan seorang perantau yang tak menemukan kemenangan dalam petualangannya. Tentang luka diam-diam yang membuatnya ragu untuk kembali. Tentang kampung halaman yang dulu dirindukan, kini terasa terlalu terang untuk luka-luka yang ingin disembunyikan.


Aku datang ke kota dengan ransel berisi harapan. Selembar ijazah, sejumlah doa dari ibu, dan keyakinan naif bahwa kerja keras pasti berbuah manis. Aku kira, kota akan menyambut siapa saja yang punya tekad. Aku kira, hidup hanya perlu dilawan dengan semangat. Aku salah.

Tahun-tahun berlalu. Pekerjaan datang dan pergi seperti hujan di musim pancaroba — tak pasti, kadang deras tapi sebentar. Gajiku tak pernah cukup untuk ditabung, apalagi dikirim sebagai kabar baik ke kampung. Aku berpindah dari satu kamar kontrakan ke kamar lain yang lebih sempit. Dari satu janji ke janji lain yang tak pernah menjadi kenyataan.

Sementara itu, teman-teman seperjuangan satu per satu pulang membawa cerita sukses. Ada yang buka toko, ada yang bawa mobil, ada yang membangun rumah dua lantai untuk orang tuanya. Mereka pulang dengan dada tegak, disambut dengan senyum, dan dielu-elukan sebagai bukti bahwa merantau itu pilihan yang benar. Aku diam-diam merasa seperti noda di antara keberhasilan itu.

Ada malam-malam ketika aku bicara sendiri di balik jendela, menatap lampu-lampu kota yang tak ramah. Aku bertanya-tanya, mungkinkah aku yang terlalu lemah? Ataukah memang dunia ini tidak adil? Dalam pikiranku, aku mengulang-ulang kutipan dari Winston Churchill:

“Success is not final, failure is not fatal: it is the courage to continue that counts.”
Tapi apa gunanya keberanian untuk terus melangkah, jika setiap langkah hanya membuatku semakin jauh dari siapa yang dulu aku ingin jadi?

Aku pernah percaya bahwa kerja keras akan selalu menemukan jalannya. Kini aku mulai ragu — jangan-jangan, aku telah salah jalan sejak awal.

Dan saat musim mudik kembali datang, aku mulai merasa: kota ini memang menyiksaku, tapi kampung halaman pun bukan tempat untuk bersembunyi.

_____________________________________

Kampung halaman, dalam ingatan masa kecilku, adalah tempat yang ramah dan teduh. Di sanalah aku pertama kali belajar berjalan, belajar mengeja, dan belajar bermimpi. Tapi entah sejak kapan, kampung itu berubah dari rumah menjadi ruang penghakiman.

Setiap kali aku pulang, ada perasaan tercekik yang datang bersama senyum-senyum basa-basi. Pertanyaan-pertanyaan ringan yang dilemparkan dengan nada ramah, tapi jatuhnya seperti peluru pelan:
“Kerja di mana sekarang?”
“Kapan bawa calon istri ke sini?”
“Sudah bisa bangun rumah buat orang tua, belum?”
Pertanyaan-pertanyaan yang mengandung asumsi: bahwa perantauan harus menghasilkan. Bahwa mereka yang pulang harus membawa kabar baik. Bahwa sukses punya bentuk yang bisa dilihat mata dan ditimbang tetangga.

Terkadang aku ingin menjawab jujur. Ingin bilang kalau hidupku tidak baik-baik saja, bahwa aku lelah, bahwa aku sedang belajar bertahan — tapi kata-kata itu terasa terlalu asing di tengah euforia mudik yang penuh syukur dan prestasi. Aku memilih diam. Tersenyum seolah semua baik-baik saja. Seolah aku bagian dari cerita keberhasilan yang mereka ingin dengar.

Di tengah keramaian itu, aku merasa asing. Seperti penonton dalam panggung yang tak pernah kupahami naskahnya. Aku mulai bertanya: apakah kampung halaman ini benar-benar tempat untuk pulang, atau hanya panggung seleksi diam-diam — siapa yang layak dielu-elukan dan siapa yang pantas dilupakan?

Aku teringat kutipan dari Naguib Mahfouz, sastrawan Mesir peraih Nobel:

“Home is not where you were born; home is where all your attempts to escape cease.”

Tapi mengapa di kampung sendiri, aku justru ingin kabur?

Mungkin bukan kampung ini yang berubah. Mungkin aku yang sudah tak lagi punya tempat di dalam definisi mereka tentang “anak rantau yang berhasil”. Mungkin luka itu memang tak bisa disembunyikan, meski aku pulang dengan senyum dan tangan penuh oleh-oleh.

Dan mungkin, untuk yang seperti aku, mudik bukanlah pulang — melainkan ujian tentang betapa jauh jarak antara rumah dan penerimaan.


Setelah musim mudik berlalu, aku duduk sendiri di kamar kontrakan yang kembali sepi. Tak ada lagi deru kendaraan di stasiun, tak ada lagi kiriman foto-foto keluarga besar berpose di ruang tamu. Aku hanya punya cermin kecil, secangkir kopi yang mulai dingin, dan pertanyaan yang tak kunjung mendapat jawaban: untuk apa pulang jika hanya untuk merasa lebih kecil dari yang lain?

Aku mulai mempertanyakan makna pulang. Apakah pulang itu harus membawa kisah sukses, atau cukup membawa kejujuran tentang siapa diri kita sebenarnya? Mengapa kebanyakan dari kita menyamakan mudik dengan pertunjukan kemenangan — seolah hidup harus dikisahkan seperti cerita dongeng yang berakhir bahagia?

Ada keinginan untuk tak pulang tahun depan. Bukan karena aku tak mencintai tanah kelahiran, tapi karena aku sedang belajar mencintai diriku sendiri — yang gagal, yang goyah, yang belum menjadi siapa-siapa. Aku ingin berhenti memaksakan diri untuk menyenangkan ekspektasi orang-orang yang bahkan tak tahu bagaimana sulitnya hari-hariku di perantauan.

Di tengah renungan itu, aku teringat kutipan dari Marcel Proust:

“The real voyage of discovery consists not in seeking new landscapes, but in having new eyes.”

Mungkin selama ini, aku terlalu sibuk membuktikan sesuatu, hingga lupa memaknai apa yang benar-benar penting: kejujuran, ketulusan, dan keberanian untuk menerima diri. Mungkin pulang tidak selalu berarti kembali ke tempat, tapi kembali ke hati yang mau berdamai dengan luka-lukanya.

Aku pun mulai memandang ulang arti sukses. Apakah sukses itu benar-benar tentang pekerjaan tetap, rumah besar, dan pujian tetangga? Ataukah tentang bertahan saat semuanya nyaris runtuh, tentang bangkit meski tertatih, tentang masih mampu tersenyum ketika tak ada satu pun alasan untuk itu?

Sunyi ini memberiku ruang untuk mendengar suara hati — suara yang sering kalah oleh kebisingan dunia. Dan suara itu berkata: jangan ukur nilai hidupmu dari tatapan orang lain.


Tahun ini mungkin aku tak akan mudik. Tidak ada tiket kereta yang dipesan, tidak ada koper yang dikemas, tidak ada oleh-oleh yang dibeli. Tapi bukan berarti aku tak pulang.

Aku sedang mempersiapkan pulang yang lain — pulang yang tidak disambut sorak-sorai atau tepuk tangan, tapi disambut oleh ketenangan dalam dada. Pulang kepada diri sendiri yang utuh, meski belum jadi siapa-siapa. Pulang kepada kesadaran bahwa nilai hidup tidak ditentukan oleh seberapa banyak pujian yang kita terima, tapi seberapa jujur kita menjalani tiap langkah.

Aku mulai memahami, bahwa kampung halaman sejati bukan hanya soal tempat lahir atau alamat KTP, tapi tempat di mana kita bisa berhenti berpura-pura. Tempat di mana keberanian untuk gagal tidak dianggap aib. Tempat di mana kejujuran disambut dengan pelukan, bukan penilaian.

Carson McCullers pernah menulis,

“We are homesick most for the places we have never known.”

Dan mungkin itulah pulang yang kucari: bukan kembali ke rumah, tapi menuju tempat di mana aku tidak harus membuktikan apa-apa. Tempat yang bisa memelukku, meski aku datang dengan tangan kosong.

Sampai saat itu tiba, biarkan aku tinggal di kota ini — menata ulang serpih-serpih harapan, menyulam ulang makna hidup, dan merangkai pulang versiku sendiri.

Sabtu, 20 September 2014

Gemericik Kotak Kayu Celengan Keluarga

Ilustrasi Ayah dan Anak dalam menabung (sumber: Sunlife)


Dahulu, di rumah orang tua saya terdapat sebuah kotak kayu dari jati, kotak itu dibuat oleh ayah saat kami anak anaknya masih kecil. ukurannya sekira 25 cm x 25 cm x 25 cm, diukir dengan motif batik mencirikan mata uang, berselang seling bidang sisinya terukir timbul Rp (rupiah) dan $ (dolar), dicat dengan warna emas simbol kekayaan dan kejayaan, menempati posisi tepat di samping TV ruang keluarga, menjadikannya sebagai benda paling keramat di dalam rumah, sebuah gembok merek globe ukuran tanggung tergantung di salah satu sudutnya, kunci gembok itu dipegang ibu sebagai pemilik kuasa,  kotak itu memiliki empat buah lubang sempit seukuran kepingan logam rupiah dan masing-masing tertulis ayah, ibu, kakak, dan adik pada setiap lubangnya, maka kami pun tahu maksud ayah mengapa kotak itu dibuatnya, kotak itu adalah celengan keluarga, seisi rumah menyebut kotak itu sebagai kotak cita cita.
--------<<<0>>>--------

Selasa, 15 Oktober 2013

PARA PEJUANG ENERGI BARU TERBARUKAN


 
Bersama Instruktur pelatihan BBPP Kupang

Beberapa bulan lalu tepatnya april tahun ini, penulis dalam kapasitas sebagai Penyuluh Pertanian asal Kabupaten Sumbawa Propinsi Nusa Tenggara Barat, mendapatkan undangan untuk mengikuti kegiatan pelatihan pembuatan pakan ternak ruminansia di Balai Besar Pelatihan Peternakan (BBPP) Noelbaki Kupang Nusa Tenggara Timur .  Dalam pelatihan tersebut penulis diperkenalkan tentang fasilitas standar pembuatan pakan ternak mulai dari hay, silase, permen sapi, amoniasi, dan banyak macam lainnya.  Dalam instalasi kandang yang cukup memadai, perhatian penulis justru tertuju pada sebuah instalasi pembuatan biogas milik BBPP yang berada tidak jauh dari instalasi kandang tersebut.  Selama ini biogas hanya menjadi wacana dalam benak kami sebagai penyuluh pertanian lapangan, tanpa pernah melihat langsung bagaimana gas dapat dihasilkan dari kotoran sapi.  Karena rasa ingin tahu yang besar, penulis melakukan pendekatan pada seorang instruktur yang masih sangat muda.  Beliau adalah Pak Marten (40),  Berperawakan sederhana dan lugas dalam menyampaikan materi pelatihan, bersedia meluangkan waktu mengupas habis tentang Biogas untuk penulis dan beberapa rekan yang tertarik mendalaminya.

Mengelola Banjir Bandang di Negeri Seribu Warna Pelangi



Kisah Sukses Penanganan Banjir Bandang di Desa Jurumapin
Kecamatan Buer Kabupaten Sumbawa NTB

http://green.kompasiana.com/iklim/2013/10/15/mengelola-banjir-bandang-di-negeri-seribu-warna-pelangi-599142.html

Ilustrasi Banjir Bandang


Jurumapin merupakan sebuah desa kecil yang terletak di Kecamatan Buer Kabupaten Sumbawa Propinsi Nusa Tenggara Barat.  Sebagai desa yang terletak di kaki Gunung Puncak Ngengas, keindahan Desa Jurumapin menjadi daya tarik tersendiri bagi para pelancong karena dihimpit oleh banyak perbukitan dan hutan durian yang rasa khasnya menggiurkan.  Dikala hujan gerimis pada sore hari, bidadaripun turun dari kayangan bersama pelangi.  Itulah mengapa desa ini disebut sebut sebagai Negeri Seribu Warna Pelangi.

Penyelamat Biodiversitas Durian




Mansyur H. Abbas dan Bibit Duriannya


Tidak ada penutur sejarah yang mengungkapkan kapan durian dihutan Desa Jurumapin Kecamatan Buer Kabupaten Sumbawa NTB itu ditanami, atau siapa yang menanami, maupun bagaimana menanaminya.  Namun legenda tak pernah kering mengisi ruang wacana masyarakat sehingga banyak yang percaya bahwa cerita seperti dalam tuturan legenda itulah asal muasalnya.  Dalam hikayat, dahulu ada banyak burung yang menanami durian itu, karena berlainan warna dan jenis burung yang menanaminya, maka lain pula rasa dan warna buah duriannya.