Rabu, 05 November 2025

Istilah ‘Beras Busuk’ Hanyalah Muncul di Majalah Busuk”

Ada yang aneh dengan zaman ini. Petani di lapangan sibuk menjemur gabah, memeriksa kadar air, mengusir tikus, dan memastikan tidak ada jamur yang tumbuh di karung, sementara di kota sana, ada meja redaksi yang bisa menentukan beras mana yang busuk—tanpa pernah mencium baunya, apalagi menimbang kadar airnya. Rupanya, hari ini beras tidak perlu diuji di laboratorium; cukup dilihat di foto, lalu disimpulkan dari aroma politiknya.

Di majalah yang katanya pembela kebenaran itu, kata busuk muncul begitu saja. Mungkin lahir dari tumpukan kertas lama yang lembap di ruangan redaksi yang ventilasinya jarang dibuka. Mereka tidak tahu, di dunia kami, kata busuk punya harga. Ia tidak bisa diucapkan sebelum data bicara. Kami para penyuluh harus menunggu angka kadar air, uji mikotoksin, hingga hasil pemeriksaan mikroba sebelum boleh menulis kata itu di laporan mutu. Tapi rupanya di kota besar, cukup dengan niat dan sedikit bumbu ideologis, kata busuk bisa terbit setiap Senin.

Kalau saja Tempo mau turun ke sawah, barangkali mereka akan tahu bahwa beras yang mereka sebut busuk itu hanyalah beras yang lelah. Ia disimpan terlalu lama, menunggu kebijakan yang datang terlambat, seperti rakyat menunggu keadilan yang selalu diundur. Tapi lelah bukan berarti busuk. Sama seperti bangsa ini—sering lelah, tapi tidak pernah busuk.

Ironinya, istilah beras busuk itu kini malah menempel di majalahnya sendiri. Bukan karena baunya, tapi karena sikapnya yang mulai kehilangan kesegaran logika. Ketika fakta diabaikan dan data ditinggalkan, majalah mana pun bisa berubah jadi gudang beras yang lembap: penuh opini, sedikit verifikasi.

Saya membayangkan, di masa depan, mungkin kita perlu SNI baru: Standar Nasional Integritas. Supaya media yang menulis tentang beras juga diuji kadar airnya—apakah masih jernih atau sudah keruh oleh prasangka. Karena kalau integritas itu lembap, apa pun yang dihasilkannya akan berbau sama: busuk.

Jadi, kalau ada yang bertanya siapa sebenarnya yang busuk, jangan buru-buru menunjuk beras di gudang Bulog. Cobalah buka halaman majalah yang menulisnya—barangkali aromanya lebih kuat daripada beras mana pun di republik ini.

1 komentar: